Sabtu, 14 November 2015

Museum Tulungagung


ABSTRAKSI

Museum merupakan tempat penyimpanan benda-benda koleksi yang bernilai penting bagi sejarah dan kebudayaan bangsa. Selain itu merupakan sebuah saran untuk memberikan informasi sebanyaknya kepada masyarakat mengenai fungsi dan nilai suatu benda dalam kehidupan manusia. Benda-benda koleksi Museum tidak hanya antik, langka dan etnis, juga merupakan rekaman perjalanan peradaban sebuah bangsa sehingga dapat dijadikan sarana pendidikan bagi masyarakat.
Museum Daerah Tulungagung dibangun pada akhir tahun 1996 yang berlokasi di Jl. Raya Boyolangu KM 4 komplek SPP/SMPA Tulungagung. Museum dengan luas lahan 4.845 m2 dan luas bangunan 8x15m ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan koleksi yang semula disimpan di Pendopo Kabupaten Tulungagung yang selanjutnya direncanakan pengembangan pembangunan di kompleks SPP/SPMA.
Letak Museum ini bisa dibilang cukup strategis sebab berada di wilayah yang sarat dengan potensi Benda Cagar Budaya yang tidak bergerak, antara lain Goa Selomangleng, Candi Gayatri, Candi Cungkup, dll. Selain itu juga merupakan jalur utama menuju Obyek Wisata Pantai Popoh Indah, Pantai Sine, dan Kerajinan Marmer di sepanjang jalur menuju Pantai Popoh Indah.
Gagasan didirikannya MuseumDaerah Tulungagung dimaksudkan sebagai wadah/tempat penyelamatan warisan budaya, tempat study dan rekreasi bagi pelaja, mahasiswa maupun bagi masyarakat luas. Museum Daerah Tulungagung merupakan museum umum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi. Dari berbagai jenis benda warisan budaya yang disimpan sebagai koleksi Museum saat ini dapat dikelompokkan sebagai koleksi arkeologi dan etnografi.
Keberadaan museum ini diharapkan mampu menjadi sebuah objek yang sangat tepat untuk menarik wisatawan terutama dari kalangan anak sekolah yang seharusnya mengenal lebih banyak mengenai Tulungagung dan budaya di dalamnya. Sebagai sebuah museum yang berisi benda - benda yang berkaitan erat dengan Tulungagung , kita akan mampu mengetahui bagaimana kehidupan masa lampau Tulungagung dan juga perkembangannya.
           


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  ........................................................................................................   i
LEMBAR PENGESAHAN  .............................................................................................   ii
MOTTO  .............................................................................................................................   iii
KATA PENGANTAR  ......................................................................................................   iv
ABSTRAKSI  ....................................................................................................................   v
DAFTAR ISI  ....................................................................................................................   vi
BAB 1 PENDAHULUAN  ...............................................................................................   1
1.1 Latar belakang  ......................................................................................................   1
1.2 Rumusan masalah  .................................................................................................   1
1.3 Tujuan penelitian  ..................................................................................................   1
1.4 Manfaat penelitian  ................................................................................................   2
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA  ............................................................................................   3
2.1 Museum Daerah Tulungagung  ..............................................................................   3
BAB 3 METODE PENELITIAN DAN METODE PENULISAN  .................................   4
3.1 Metode Penelitian  .................................................................................................   4
3.1.1 Penelitian lapangan  .......................................................................................   4
3.1.2 Penelitian kepustakaan  ..................................................................................   4
Langkah-langkah penelitian :
3.1.2.1 Heuristik  ...........................................................................................   4
3.1.2.2 Verifikasi  ..........................................................................................   4
3.1.2.3 Interpretasi  .......................................................................................   5
3.1.2.4 Historiografi  .....................................................................................   6
3.2 Metode penulisan  .................................................................................................   6
3.2.1 Library research  ............................................................................................   6
3.2.2 Field research  ................................................................................................   7
BAB 4 HASIL PENELITIAN  .........................................................................................   8
4.1 Kondisi lapangan  ..................................................................................................   8
BAB 5 PEMBAHASAN  ..................................................................................................   12
5.1 Museum Daerah  Tulungagung  .............................................................................   12
5.2 Koleksi Museum Tulungagung    ...........................................................................   13
5.3 Cara perawatan benda-benda di museum  .............................................................   21
5.4 Pengunjung  ...........................................................................................................   21



BAB 6 PENUTUP  ............................................................................................................   22
6.1 KESIMPULAN  ...................................................................................................   22
6.2 SARAN  ................................................................................................................   22
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA  



BAB 1
PENDAHULUAN


1.1    Latar belakang 
Dari berbagai jenis benda warisan budaya yang menjadi koleksi Museum Tulungagung, masih di dominasi dengan Koleksi Arkeologi yang banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Tulungagung, yang semula koleksi Museum tersebut disimpan di ruangan Pendopo Kabupaten Tulungagung.
Gagasan didirikannya Museum Daerah ini dimaksudkan selain sebagai wadah/tempat penyelamatan warisan budaya diharapkan juga dijadikan tempat tujuan studi, rekreasi, baik pelajar mahasiswa maupun masyarakat luas. 


1.2    Rumusan masalah 
Masalah-masalah yang diteliti, dirumuskan :
1.    Bagaimana Museum  Tulungagung itu?
2.    Apa saja koleksi Museum Tulungagung?
3.    Bagaimana cara perawatan benda-benda di museum itu?
4.    Siapa saja pengunjung di Museum Daerah Tulungagung?


1.3    Tujuan penelitian 
Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah:
a)      Untuk menambah wawasan tentang benda cagar budaya di Tulungagung
b)      Untuk memperkenalkan kepada masyarakat sebagian dari koleksi yang terdapat di Museum Daerah Tulungagung.
c)      Dapat menyebarluaskan informasi tentang keberadaan Museum dan Koleksi Museum Daerah Tulungagung kepada khalayak ramai, terutama pengunjung Museum Daerah.
d)     Dapat mengenal dan akhirnya akan akan memanfaatkan keberadaan museum.




1.4    Manfaat penelitian 
Manfaat dari penulisan ini diharapkan:
a)      Masyarakat akan tahu mengenai benda cagar budaya dan peninggalan.
b)      Masyarakat lebih memahami dan mengerti akan pentingnya menjaga warisan budaya dan peninggalan.
c)      Masyarakat akan menjaga benda cagar budaya dan peninggalan.
d)     Masyarakat akan mengerti keberadaan museum.





















BAB 2
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Museum Daerah Tulungagung 
Museum merupakan tempat penyimpanan benda-benda koleksi yang bernilai penting bagi sejarah dan kebudayaan bangsa. Selain itu merupakan sebuah saran untuk memberikan informasi sebanyaknya kepada masyarakat mengenai fungsi dan nilai suatu benda dalam kehidupan manusia. Benda-benda koleksi Museum tidak hanya antik, langka dan etnis, juga merupakan rekaman perjalanan peradaban sebuah bangsa sehingga dapat dijadikan sarana pendidikan bagi masyarakat.
Museum Daerah Tulungagung dibangun pada akhir tahun 1996 oleh Pemerintah Kabupaten Tulungagung, berlokasi di Jalan Raya Boyolangu, Km. 4, Komplek SPP/SPMA Tulungagung. Bangunan Museum Daerah berukuran 8 x 15 m, dengan luas lahan 4.845 m² ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan koleksi yang semula disimpan di Pendopo Kabupaten Tulungagung yang selanjutnya direncanakan pengembangan pembangunan di kompleks SPP/SPMA.
Letak Museum ini bisa dibilang cukup strategis sebab berada di wilayah yang sarat dengan potensi Benda Cagar Budaya yang tidak bergerak. Lokasinya mudah ditemukan karena dari kejauhan saja sudah nampak beberapa prasasti berdiri mengelilingi sisi kanan museum. Disekelilingnya masih berupa sawah/ tanah perkebunan.
Gagasan didirikannya Museum Daerah Tulungagung dimaksudkan sebagai wadah/tempat penyelamatan warisan budaya, tempat study dan rekreasi bagi pelajar, mahasiswa maupun bagi masyarakat luas.
Museum Daerah Tulungagung merupakan museum umum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi.








BAB 3
METODE PENELITIAN DAN METODE PENULISAN

3.1 Metode Penelitian 
Metode penelitian yang dilakukan dalam penulisan karya tulis ini ada 2 bentuk, yaitu:
3.1.1 Penelitian lapangan 
Yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara:
1.    Mendatangi secara langsung ke tempat terjadinya peristiwa sejarah atau ke tempat di temukannya benda-benda bersejarah (situs).
2.    Apabila peninggalan-peninggalan bersejarah sudah tersimpan di museum, berarti melakukan penelitian museum.
3.    Apabila para pelaku dan aksi sejarah masih hidup, berarti melakukan wawancara terhadap pelaku-pelaku sejarah tersebut.

3.1.2        Penelitian kepustakaan 
Yaitu penelitian yang dengan cara mengumpulkan data-data tertulis, baik yang di simpan di museum, perpustakaan, kronik, naskah-naskah, surat kabar, dan lain-lainnya. Kedua bentuk penelitian sejarah tersebut biasanya lebih cenderung dipadukan ketimbang berdiri sendiri, keduanya saling melengkapi satu sama lainnya. Namun keduanya baik penelitian lapangan maupun kepustakaan dalam ilmu sejarah selalu bersifat diskriptif.

·      Langkah-langkah penelitian :
Langkah-langkah dalam penelitian sejarah adalah sebagai berikut:
3.1.2.1       Heuristik
Heuristik dalam bahasa Yunani Heuriskein berarti menemukan, yaitu usaha untuk mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah baik sumber benda, sumber tertulis, maupun sumber-sumber lisan. Sedangkan tempat-tempat untuk menemukan sumber sejarah bisa dilakukan atau mendatangi museum, perpustakaan, arsip nasional, kantor pemerintahan, dan lapangan, yaitu tempat terjadinya peristiwa atau penemuan peninggalan sejarah, atau tempat kediaman tokoh-tokoh atau saksi sejarah.
3.1.2.2  Verifikasi
Vertifikasi, maksudnya melakukan pemerikasan atau pengujian terhadap kebenaran dari sumber-sumber sejarah yang tealah terkumpul atau pemeriksaan terhadap kebenaran laporan terhadap peristiwa sejarah. Vertifikasi dapat dilakukan dengan melaksanakan “kritik sumber” yang dalam ilmu sejarah dibedakan menjadi:
1)   Kritik Intern, yaitu kritik terhadap kredibilitas (kebiasaan dipercaya) terhadap isi dari peninggalan sejarah misalnya isi dari prasarti, dokumen, dll. Kritik intern bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.    Penilaian intrinsik, artinya sumber tersebut bersifat resmi atau tidak  dari siapa tokoh yang mengeluarkan atau mengarang sumber gtersebut.
b.   Study komperatif yaitu membandingkan antara sumber yang satu dengan sumber yang lain.
c.    Menggunakan logika akal sehat
2)   Kritik Ekstern, yaitu kritik terhadap autensitas (keaslian sumber) dari sumber-sumber sejarah yang digunakan. Kritik ekstern bisa digunakan dengan cara:
a.    Tipologi, yaitu cara penentuan ketuaan peninggalan sejarah berdasarkan bentuk (tipe) suatu benda peninggalan itu.
b.   Stratigrafi, yaitu cara penentuan ketuaan peninggalan sejarah berdasarkan lapisan tanah tempat benda tersebut ditemukan.
c.    Kimia, yaitu cara menentukan ketuaan peninggalan sejarah berdasarkan unsur kimia yang terkandung pada benda tersebut.
d.   Menanyakan secara langsung terhadap tokoh-tokoh yang terlibat peristiwa sejarah tersebut.
3.1.2.3 Interpretasi
Interpretasi yaitu penafsiran terhadap peristiwa atau memberikan pandangan teoritis terhadap suatu peristiwa sejarah. Interpretasi dapat dilakukan melalui dua tahap yaitu:
a.    Analisis, yaitu menguraikan berbagai fakta-fakta sejarah untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
b.    Sintesis, yaitu menyatukan berbagai fakta-fakta sejarah menjadi satu kesatuan yang selaras. Artinya, dalam tahap sintesis ini, fakta-fakta sejarah yang telah diuji kebenarannya disusun secara sistematis (kronologis), dan hubungan antar fakta yang satu dengan fakta yang lainnya dijelaskan, sehingga menjadi suatu kesatuan (kebulatan) cerita/kisah sejarah yang menggambarkan kebenaran yang obyektif. Penyusun secara sistematis tersebut bisa dilakukan dengan cara memberi interpretasi, agar interpretasi yang di kemukakan tidak terlalu subyektif maka selain interpretasi harus dipertanggung jawabkan kebenarannya dengan memakai bukti-bukti sejarah sebagai pendukung, sehingga nantinya dihasilkan suatu penulisan sejarah yang benar-benar obyektif.

3.1.2.4 Historiografi
Historiografi, yaitu penulisan sejarah dengan metode tertentu atau sesuai dengan norma-norma dalam disiplin ilmu sejarah. Penulisan sejarah harus diupayakan subyektif mungkin untuk menghindari adanya penyimpangan-penyimpangan. Namun demikian harus disadari pula unsur-unsur subyektif dari penulis sangat sulit dihindari. Kadar subyektifitas dalam penulisan sejarah ditentukan oleh beberapa factor, diantaranya adalah:
a.    Sikap berat sebelah pribadi.
b.    Adanya prasangka kelompok.
c.    Adanya interpreetasi yang berlainan tentang factor-faktor sejarah.
d.   Adanya pandangan hidup yang berbeda tentang penggerak sejarah.
Penulisan sejarah biasanya tergantung pada banyak sedikitnya dari sumber-sumber sejarah yang digunakan oleh sejarawan. Semakin banyak sumber-sumber sejarah yang digunakan dapat dipastikan penulisan sejarah akan semakin kompleks. Atas dasar sedikit banyaknya sumber sejarah yang digunakan, kita akan mengenal beberapa bentuk penulisan sejarah sebagai berikut:
a.       Penulisan Naratif, penulisan naratif lebih cenderung berorientasi pada sumber sejarah sehingga uraiannya lebih bersifat kronologis semata. Biasanya yang diceritakan tentang apa dan dimana peristiwa itu terjadi.
b.      Penulisan Diskriptif, penulisan diskriptif hampir sama dengan naratif tetapi lebih detail dan kompleks. Biasanya yang diceritakan bukan hanya tentang apa dan dimana peristiwa itu terjadi, tetapi dibahas pula mengapa peristiwa itu terjadi.
Penulisan Analisis, penulisan analisis lebih berorientasi pada problem atau masalah. Biasanya diceritakan tidak hanya apa dan dimana serta mengapa peristiwa itu terjadi, tetapi setiap uraian dijadikan problema menjadi sub-sub tema yang lebih kecil yang ditinjau dari berbagai sudut. Misalnya dari sudut politik, social, ekonomi, agama, budaya, dan lain-lainnya. Sehingga dalam penulisan analisis ini nantinya dapat ditemukan satu model tersendiri tentang teori suatu peristiawa

3.2 Metode penulisan
3.2.1 Library research
Library research (penelitian kepustakaan) yaitu penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literature (kepustakaan), baik berupa buku-buku, catatan, dokumen, kisah sejarah maupun laporan hasil penelitian dari penelitian terdahulu.

3.2.2 Field research
Field research (penelitian lapangan) yaitu penelitian yang dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan untuk menggali dan meneliti data yang berkenaan dengan kemampuan siswa.





















BAB 4
HASIL PENELITIAN

4.1 Kondisi lapangan
Kondisi Museum Daerah Tulungagung memiliki luas lahan 4.845 m2 dan luas bangunan 8m  x 15m yang masih terlihat baik yang berlokasi di Jalan Raya Boyolangu, Km. 4, Komplek SPP/SPMA Tulungagung. Letak Museum ini bisa dibilang cukup strategis sebab berada di wilayah yang sarat dengan potensi Benda Cagar Budaya yang tidak bergerak. Museum ini berada di barat jalan. Lokasinya mudah ditemukan karena dari kejauhan saja sudah nampak beberapa prasasti berdiri mengelilingi sisi kanan museum. Di sekelilingnya masih berupa sawah/ tanah perkebunan. Terdapat seorang penjaga museum yang setiap hari berjaga di pos di depan museum. Untuk masuk ke dalam museum, pengunjung tidak dikenakan biaya sama sekali. Namun, cukup dengan menulis nama di buku daftar pengunjung. Museum ini ukurannya sedang. Tidak begitu besar namun cukup untuk menyimpan koleksi benda-benda sejarah di Tulungagung. Ruangan penyimpanan benda-benda koleksi juga bersih. Penataan koleksi  benda-benda bersejarah tertata dengan rapi. Setiap benda koleksi selalu disertai dengan keterangan masing-masing yang menunjukkan nama dari koleksi benda bersejarah tersebut dan tempat ditemukannya. Museum Daerah Tulungagung dimaksudkan sebagai wadah/tempat penyelamatan warisan budaya, tempat study dan rekreasi bagi pelajar, mahasiswa maupun bagi masyarakat luas. Museum Daerah Tulungagung merupakan museum umum dimana koleksinya terdiri dari koleksi arkeologi dan koleksi Etnografi (Peralatan Teknologi Tradisional).





BAB 5
PEMBAHASAN

5.1 Museum Daerah Tulungagung
Museum Daerah Tulungagung dibangun pada akhir tahun 1996 oleh Pemerintah Kabupaten Tulungagung, berlokasi di Jalan Raya Boyolangu, Km. 4, Komplek SPP/SPMA Tulungagung. Bangunan Museum Daerah berukuran 8 x 15 m, dengan luas lahan 4.845 m² ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan koleksi yang semula disimpan di Pendopo Kabupaten Tulungagung yang selanjutnya direncanakan pengembangan pembangunan di kompleks SPP/SPMA.
Letak Museum ini bisa dibilang cukup strategis sebab berada di wilayah yang sarat dengan potensi Benda Cagar Budaya yang tidak bergerak, antara lain Goa Selomangleng, Candi Gayatri, Candi Cungkup, dll. Selain itu juga merupakan jalur utama menuju Obyek Wisata Pantai Popoh Indah, Pantai Sine, dan Kerajinan Marmer di sepanjang jalur menuju Pantai Popoh Indah. Lokasinya mudah ditemukan karena dari kejauhan saja sudah nampak beberapa prasasti berdiri mengelilingi sisi kanan museum. Disekelilingnya masih berupa sawah/ tanah perkebunan.
Museum Daerah Tulungagung dimaksudkan sebagai wadah/tempat penyelamatan warisan budaya, tempat study dan rekreasi bagi pelajar, mahasiswa maupun bagi masyarakat luas. Museum Daerah Tulungagung merupakan museum umum dimana koleksinya terdiri dari koleksi arkeologi dan koleksi Etnografi (Peralatan Teknologi Tradisional). Koleksi Etnografi itu masuk Museum Daerah. Karena ini merupakan sejarah tersendiri bagi masyarakat Tulungagung yang dulu dikenal sebagai Kadipaten Ngrowo. Hampir sepanjang masa Daerah Tulungagung digenangi rawa – rawa sepanjang kurang lebih 8 bulan dalam setahun. Maka dengan adanya Terowongan Niama akhirnya Tulungagung terbebas dari banjir.
Perlu diketahui bahwa Booklet Koleksi Arkeologi dan Etnografi pada Museum Daerah ini di tahun 2008 menambah koleksi berupa alat-alat permainan tempo dulu dan alat-alat tradisional.




5.2 Koleksi Museum Daerah Tulungagung
Dari berbagai jenis benda warisan budaya yang disimpan sebagai koleksi museum saat ini dapat dikelompokkan sebagai koleksi arkeologi dan etnografi.
*        Koleksi arkeologi
          Cirinya yaitu benda cagar budaya yang terbuat dari batu, batu merah dan logam (kuningan dan emas). Berupa peninggalan benda bergerak berupa arca yang sebagian besar terbuat dari batu andesit. Koleksi arkeologi sejumlah 103 koleksi, antara lain :
1.         Patung DURGA (batu Andesit) 1 buah
2.         Patung AGASTYA (batu Andesit) 2 buah
3.         Patung JALADWARA (batu Andesit) 1 buah
4.         Patung WISNU (batu Andesit) 2 buah
5.         Patung LlNGGA SEMU (batu Andesit) 1 buah
6.         Patung DWARAPALA (batu Andesit) 17 buah
7.         Patung KEPALA IKAN (batu Andesit) 2 buah
8.         Patung NANDI (batu Andesit) 1 buah
9.         Patung KALA (batu Andesit) 2 buah
10.     Patung BUDHA (batu Andesit) 2 buah
11.     Patung ASMA (batu Andesit) 1 buah
12.     Patung SELUBUNG TIANG (batu Andesit) 1 buah
13.     Patung YONI (batu Andesit) 3 buah
14.     Patung NARASHIMA (batu Andesit) 1 buah
15.     PRASASTI (batu Andesit) 9 buah
16.     ARCA (batu Andesit) 1 buah
17.     Patung SKANDHA (batu Andesit) 1 buah
18.     Patung SIWA MAHAKALA (batu Andesit) 1 buah
19.     Patung PARWATI (batu Andesit) 1 buah
20.     AMBANG PINTU (batu Andesit) 1 buah
21.     Patung GANESHA (batu Andesit) 4 buah
22.     BATUCANDI (batu Andesit) 44 buah
23.     KERIS (Tilam Upih & Tilam Sari) 2 buah



Sedikit informasi tentang arca-arca di museum, antara lain:
o  BUDDHA AKSOBHYA:
Merupakan Koleksi yang terbuat dari bahan Batu Andesit, ukuran Panjang 83 cm, ukuran lebar 72 cm, ukuran tinggi 146 cm, keadaan baik, pahatan halus. Bentuk gambaran Arca duduk Yogasana di atas Padmasanaganda, di belakang kepala sisi kiri ada prabha. Rambut keriting, telinga panjang, tangan kanan hilang, tangan kiri dalam posisi Dhyanamudra. Memakai upawita, lipatan-lipatan dan tepian kain tampak, asana sisi kiri hilang. Pada sisi samping asana samar-samar, ada prasasti dua baris melingkari asana.
o  AGASTYA:
Area berdiri samabanga di atas asana. Di belakang terdapat stela, arca berperut buncit, bertangan empat, tangan belakang memegang Trisula (kanan) dan sesuatu yang tidak jelas (kiri). Tangan depan memegang pundi-pundi (kiri) dan menggenggam (kanan), area berkumis panjang dan berjenggot. Memakai giwang dan kelat bahu sederhana. Bahan Batu Andesit ukuran panjang 27 cm,  ukuran lebar 16 cm dan ukuran tinggi 46 cm.
o  JALADWARA :
Kondisi baik, ukuran panjang 53 cm, ukuran lebar 19 cm dan ukuran tinggi 38 cm, terbuat dari batu andesit. Bagian depan berbentuk kepala naga (Makara) dengan  mulut menganga. Bagian belakang berupa bidang segi empat memanjang ke belakang dengan cekungan ditengah untuk saluran air. Bagian depan atas dihias dengan motif sulur (ukel, jawa). Diatas  terdapat lubang kecil untuk saluran air.
o  YONI:
Keadaan baik, dengan ukuran panjang sisi 37,5 cm, ukuran tinggi 34 cm, terbuat dari batu andesit, berbentuk sederhana. Bagian tengah lebih kecil dari pada bagian atas dan bawah. Hiasan berupa garis-garis vertikal dan horizontal yang betingkat-tingkat. Terdapat cerat berukuran panjang 20 cm, ukuran lebar 13 cm, ukuran tebal 14 cm. Pada sisi atas terdapat cekungan bujur sangkar berukuran pajang sisi 14 cm, ukuran kedalaman 23 cm dan Yoni ini ukuran panjang selurnya 42, 5 cm dan  Ukuran Tinggi 46 cm.


o  WlSNU:
Arca berdiri diatas padmasana ganda, terbuat dari  batu andesit dengan ukuran panjang 32 5 cm, ukuran lebar 23 5 cm dan ukuran tinggi 84 5 cm. Dibelakang arca terdapat stela, di belakang kepala terdapat prabha. Adabeberapa bagian yang rusak yaitu wajah, mahkota, kedua tangan depan dan atribut kanan belakang. Stela bagian atas rumpil tangan kiri belakang memegang sangka bersayap arca memakai giwang, hara (susun tiga). Kelat bahu, gelang polos (susun tiga), uncal, upawita, gelang kaki. Di kiri dan kanan arca menempel pada stela ada teratai  yang keluar dari kuncup.
o  DWARAPALA:
Arca terbuat  dari batu Andesit dengan ukuran panjang 53 cm, lebar 53 cm, tinggi 103 cm. Rambut keriting panjang sepinggang, kaki kanan jongkok, kaki kiri di lipat kebelakang, bertumpu pada ujung jari. Kedua kaki diatas lutut kiri memegang gada yang menempel ke bahu kiri. Mata melotot mulut tertawa sehingga tampak gigi dan taringnya. Memakai giwang, upanita ular, gelang tangan, gelang kaki, perut buncit, hiasan asana berupa tengkorak samar samar tampak.
o  PRASASTI:
Keadaan agak aus, berbentuk akolade, mempunyai ukuran panjang sisi atas 68 cm, panjang sisi bawah 57 cm, tinggi 127 cm dan lebar 19 cm. Dari sisa alur-alur yang ada, jumlah baris sisi depan 29, belakang 27, sisi kiri 24, sisi kanan aus. Dari bekas-bekas huruf  yang masih ada tipe huruf  Mojopahit berukuran 0,7 cm. Pada sisi depan atas tepat ditengah terdapat lanchana berbentuk lingkaran, didalamnya terdapat dua sayap
o  KALA:
Arca keadaan baik, pahatan halus, hanya bagian wajah merupakan sambungan atas beberapa bagian, Mata melotot, tinggal bagian kiri, mulut tertawa, tampak gigi dan taring, Keadaan hidung mancung, pipi tembem, dibelakang bagian bawah ada tonjolan bidang persegi, terbuat dari batu Andesit dengan ukuran panjang 74 cm, ukuran Lebar 84 cm dan ukuran Tinggi 57 cm.




o  BUDDHA:
Arca duduk bersila yogasana dengan Kedua tangan terbuka berada diatas lutut, diatasnya terdapat bunga stela berbentuk akolade, rambut bersanggul ke atas, Terbuat dari Bahan Batu Andesit dengan ukuran panjang panjang 28 cm, ukuran Lebar 19 cm sedangkan ukuran Tingginya 42 cm.
o  Bima  atau Bimasena :
Adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dianggap sebagai seorang tokoh heroik. Ia adalah putra Dewi Kunti dan dikenal sebagai tokoh Pandawayang kuat, bersifat selalu kasar dan menakutkan bagi musuh, walaupun sebenarnya hatinya lembut. Ia merupakan keluarga Pandawa di urutan yang kedua, dari lima bersaudara. Saudara se’ayah’-nya ialah wanara yang terkenal dalam epos Ramayanadan sering dipanggil dengan nama Hanoman.
o  PATUNG MINA
           Menggambarkan mulut ikan menganga lebar merupakan fragmen makara yang biasa dipergunakan sebagai hiasan ujung pipi tangga masuk suatu bangunan. Pada sekitar abad XIII pengkultusan kepada binatang tertentu berkembang dengan pesat.

















*        Koleksi etnografi
          Cirinya yaitu terbuat dari kayu, bambu dan kertas. Berupa peralatan pertanian dan perikanan. Koleksi etnografika sejumlah 132 koleksi.
Ada 1 dinding dengan beberapa foto candi-candi yang ada di Tulungagung, antara lain: foto candi Sanggrahan, candi Dadi, candi Boyolangu (Gayatri), candi Mirigambar, candi Penampihan, goa Tritis, goa Selomangleng, dan goa Pasir.


o    Alat – Alat Permainan Tempo Dulu :
1.    Egrang
Bahannya bisa dari bambu yang tua, dari bahan kayu yang kuat, atau bisa juga berbahan logam. Sepasang untuk kaki kanan dan kaki kiri. Keduanya diberi pencatan tinggi. Tinggi pencatan bisa dibuat sesuai selera, bisa 0.5m, 1m, dll. Permainan ini pada dasarnya mempunyai fungsi membentuk kecerdasan seseorang pada masa perkembangan jasmaninya. Permainan ini membutuhkan ketrampilan, kecekatan, disiplin, cermat, waspada, tangguh tidak mudah goyah, lengah sedikit akan jatuh.
Egrang ini dapat digunakan untuk permainan apa saja diantaranya yaitu
- Balapan lari
- Sepak bola dengan Egrang
- Saling mendorong diatas Egrang. Siapa yang jatuh berarti kalah
- Uji nyali berjalan di atas air, dsb.
2.  Banggalan / Gangsingan / Kekean
Umumnya terbuat dari kayu yang tahan akan paku dan dibentuk sedemikian rupa. Bagian bawah diberi paku sebagai alat untuk mematuk agar dapat diputar sampai mendesing. Tujuannya pada saat dipatuk oleh lawannya tetap berputar. Siapa yang mati dulu berarti dia yang kalah. Alat untuk memutar disebut Uwet ( bahasa jawa ), biasanya dari lulup kayu Pohon Waru.
Permainan ini bisa dilakukan oleh beberapa orang dengan jumlah maksimal 10 orang, misalnya dengan cara hom pim pah ( bahasa jawa ). Siapa yang paling kalah memberi umpan dahulu, bisa dengan Tu ( artinya kepala di atas ) atau dengan Kek ( artinya kepala di bawah ). Kalau gangsing pemberi umpan tetap berputar dan lawannya mati berarti yang memberi umpan menang. Demikian seterusnya sampai dengan jumlah peserta. Gangsing yang paling kuat bertahan berputar saat mematuk atau dipatuk lawan, dialah yang menang dan berhak menyandang gelar Raja. Dan saat melanjutkan permainan, Raja akan mematuk paling akhir. Raja tidak pernah dipatuk oleh bawahannya, kecuali saat Raja mematuk umpan terakhir dan Raja mati, maka yang memberi umpan naik jadi Raja. Gangsing yang kalah siap dipatuk. Begitu seterusnya. Permainan ini dapat melatih kecermatan, kecerdasan dalam berpikir karena memerlukan teknik permainan dalam memenangkan permainan ini.
3. Enthik
Bahannya terbuat dari Ranting Bambu Ori yang tua. Ranting bambu yang dibutuhkan dalam permainan ini ada 2 macam yaitu ranting pendek yang berukuran ± 15cm yang berfungsi sebagai bahan untuk dipukul dan disebut Wedoan ( bahasa jawa ). Sedangkan Ranting Bambu Ori yang lebih panjang yang disebut Lanangan berukuran ± 60cm yang berfungsi sebagai alat.
Permainan ini ada 3 langkah, yaitu :
1. Langkah Pertama yaitu ranting yang pendek sebagai Wedoan ditaruh di atas lubang kemudian dicungkit dan dilempar sejauh mungkin dengan memakai bambu yang panjang. Kemudian bambu yang panjang ditaruh di atas lubang tadi lalu bambu yang pendek dipukulkan dan diupayakan kena.
2. Untuk langkah kedua, bambu yang pendek diletakkan di atas bambu yang panjang, lalu diayunkan ke atas dan dipukul sejauh mungkin. Kemudian Si penjaga mengembalikan dengan datar ke arah lubang tersebut dengan bambu pemukul tadi .
3. Sedangkan langkah ketiga biasa disebut dengan Patél Lele yakni bambu pendek ( Wedoan ) ditaruh dalam lubang dengan posisi miring dan sebagian ranting bambu terlihat, lalu dipukul dengan menggunakan bambu yang panjang, setelah naik baru dipukul sejauh mungking. Kemudian jarak hasil pukulan bambu panjang diukur memakai bambu. Yang pendek ( Wedoan ) ke arah lubang di awal permainan. Demikian seterusnya. Jumlah nilai yang harus dikumpulkan dalam permainan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
Pada langkah pertama, hak bagi penjaga apabila bisa menangkap nilainya 10 ( sepuluh ). Sedangkan pada langkah kedua, hak bagi penjaga senilai 15 ( lima belas ). Dan pada langkah ketiga, hak bagi penjaga senilai 25 ( dua puluh lima ) dan bila penjaga bisa menangkap pukulan ranting bambu pemain, maka otomatis pemukul gugur/mati dan ganti posisi sebagai penjaga.
Kesimpulan dalam permainan ini :
a.  Untuk membentuk kepribadian anak menjadi cerdas, tangkas, ulet, waspada dalam gerak-gerik lajunya permainan. Kalau tidak waspada akan terjadi malapetaka mengenai dirinya.
b.  Kepuasan bagi yang dapat mengumpulkan lebih dahulu nilai yang telah ditetapkan oleh kedua belah pihak.
c.  Bagi yang menang mendapatkan hadiah yang telah ditentukan.
4. Dakonan / Dakon / Congklak
Dakonan merupakan suatu permainan tradisional yang biasanya dilakukan oleh anak – anak perempuan dengan jumlah peserta 2 orang. Bahan dakon terbuat dari bahan kayu yang diukur sedemikian rupa menurut selera atau bisa juga menggunakan bahan yang lain. Pada papan Congklak/Dakon terdapat 16 buah lubang yang terdiri dari 14 lubang kecil yang saling berhadapan dan 2 lubang besar di kedua sisinya. Untuk isiannya berjumlah 98 buah biji yang terbuat dari biji – bijian, batu – batuan, kelereng, atau plastik. Setiap sisi pemain terdapat 7 lubang kecil dan lubang besar di sisi kanan pemain merupakan lubang milik masing -masing pemain.
Permainan ini mengandung unsur pendidikan untuk mencerdaskan akal pikiran anak dan pandai menafsirkan/memperkirakan bagaimana agar lumbung miliknya dapat terisi penuh sehingga dapat mengalahkan lumbung milik lawannya.
5.    Bendan
Bahannya terbuat dari batu berjumlah 2 buah, yang satu berukuran besar dengan berat ± 1.5 kg. Kemudian dicarikan batu yang bisa berdiri tegak tanpa bantuan. Batu yang kedua agak kecil tujuannya untuk dilemparkan ke pasangan batu yang besar tadi. Kalau bisa kena, maka yang menjaga harus menggendong atau siap jadi kudanya dengan jarak yang ditentukan terlebih dahulu oleh pemain yang menang. Pada lemparan pertama misalkan tidak kena dari jatuhnya lemparan pertama tadi dilanjutkan langkah berikutnya untuk melempar pasangan batu tadi sampai roboh. Kalau berhasil merobohkan maka penjaga siap – siap menggendong tapi jaraknya lebih dekat dari lemparan pertama tadi. Namun apabila lemparan tadi tidak mengenai sasaran berarti pemain dinyatakan kalah dan siap jadi penjaga. Demikian seterusnya. Permainan ini bisa dilakukan oleh 2 orang atau dengan kelompok. Permainan ini dapat membentuk ketrampilan, kecerdasan, keuletan dan kekuatan fisik.
6.    Tembak- Tembakan
Bahannya ada yang terbuat dari Pring Jabal sebesar telunjuk. Mimis/pelurunya terbuat dari buah salam yang sudah ranum atau sudah matang. Lalu diletakan diujung dan pangkalnya. Cara kerjanya, peluru yang ada di pangkal tersebut ditusuk dengan tongkat tumpul dan dengan diameter sebesar lubang Pring Jabal. Sehingga berbunyi letupan dan di arahkan kepada lawan yang dianggap musuh. Permainan ini dilakukan dengan kelompok yang telah ditentukan oleh peserta itu sendiri.
Pemainan ini memiliki unsur pendidikan untuk bela Negara. Adapun tembak – tembakan di dalam koleksi ini kami buat mirip dengan Tembak Laras Panjang yang bahannya dari kayu namun ujungnya tetap menggunakan Pring Jabal. Pelurunya menggunakan Pring Ori yang dibentuk sedemikian rupa sebesar lubang yang ada dan ujungnya yang tumpul dilapisi karet. Fungsinya sama dengan yang di atas.
Asal koleksi :
1.    Penemuan oleh masyarakat Tulungagung
2.    Pencarian dan pendataan berdasarkan budaya di Tulungagung
3.    Hibah dari masyarakat Tulungagung

5.3 Cara perawatan benda-benda di museum 
1.         Secara tradisional
Yaitu dengan menggunakan sikat dan air khusus benda arkeologi, dan menggunakan lap basah khusus benda etnogragrafika. Semua itu dilakukan satu bulan sekali.
2.         Secara modern
Yaitu menggunakan zat kimia dipilih zat yang tidak merusak benda cagar budaya. Perawatan ini dilakukan setiap 5 tahun sekali.

5.4    Pengunjung
Secara umum pengunjung museum 75% dari kalangan pelajar dan mahasiswa, dan 25% dari masyarakat umum dan dinas. Hal pertama yang harus dilakukan setelah sampai di museum, tentu berurusan dengan administrasi. Namun tidak dipungut biayanya, hanya mencantumkan nama pengunjung, asal, pekerjaan dan tujuan pengunjung.
BAB 6
PENUTUP

6.1 KESIMPULAN
Dengan mengucap puji syukur alhamdulillah  berkat bimbingan, pengarahan dari bapak/ibu guru bidang studi sejarah dan pemandu dari Museum Tulungagung. Museum Tulungagung telah mampu melestarikan sejarah kota Tulungagung yang hampir punah karena ulah manusia dengan memperjual belikan benda sejarah tersebut ke pasar luar negeri, serta memperkenalkan benda sejarah asli kota Tulungagung ke luar negeri melalui pariwisata ke Museum Tulungagung. Dengan adanya Museum Tulungagung di Kecamatan Boyolangu dapat menarik wisatawan baik  dalam kota maupun luar kota untuk mengunjunginya.

6.2 SARAN
Dengan adanya Museum Tulungagung, masyarakat Tulungagung maupun sekitarnya mampu mengenal bahkan melestarikan benda bersejarah yang bernilai tinggi tersebut. Seharusnya Pemerintah Kota Tulungagung lebih memperhatikan keadaan sekitarnya karena kurang terawat dari segi penataan benda benda bersejarah tersebut, maupun kebersihan jika keadaan seperti ini terus dibiarkan akan berdampak buruk dengan pariwisata Tulungagung. Pengunjung Museum Daerah Tulungagung sebaiknya juga tetap menjaga benda-benda koleksi Museum tetap pada tempatnya. Sebaiknya perawatan benda-benda koleksi juga diakukan lebih rutin agar debu tidak menempel dan dapat terjaga keasliannya. CCTV dalam museum juga diperlukan agar bisa mengawasi pengunjung yang masuk.



 DAFTAR PUSTAKA







Lampiran

Salah satu foto candi yang digantung di tembok beserta keterangannya
Prasasti yang berdiri di sisi kanan museum
Arca-arca yang berbentuk binatang
Prasasti yang berdiri di sisi kanan museum
Patung Mina
Arca  Budha Aksobhya
Alat Kesenian Tradisional

Arca Dwarapala
Alat Perikanan Tradisional

Arca-arca cina yang berada di belakang museum
Alat Pertanian Tradisional
Fosil tengkorak Homo Wajakensis



Download Document Museum Tulungagung






















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Release Radar Spotify 28 Apr 2024

  Music of English, Italian, Romanian, Spanish 1. Kriss Kross Amsterdam, INNA - Queen of My Castle 2. Baby K - Fino al Blackout 3. Tananai, ...